CERPEN

                     PENYESALAN ABADI



Di ufuk timur ada matahari yang terlihat belum tampak. Udara pagi hari terasa sangat dingin. Di rumah kecil, seorang gadis bernama Nina sedang menyiapkan perbekalan makan untuk di sekolah seperti biasanya.
Ketika matahari telah mulai tampak, Nina bersiap-siap pergi ke sekolah. Nina melangkah dengan mantap menatap kedepan, Nina siap untuk mengikuti pelajaran di sekolah. Sekolah Nina lumayan jauh dari rumahnya, Nina harus naik angkutan umum untuk pergi ke sekolah. Setelah sampai perberhentian mobil angkutan umum, Nina harus berjalan kaki sedikit hingga sampai sekolahnya.
Pada saat di perjalanan, Nina melihat seorang laki-laki dengan gerak-gerik yang mencurigakan di sebrang jalan. Laki-laki tersebut sedang berdiri seakan-akan sedang membaca situasi. Nna mencurigai laki-laki tersebut akan mencuri helm motor yang di parkirkan di depan took makanan. Ternyata dugaan Nina benar laki-laki itu mengambil helm berwarna merah muda itu, lalu pergi menggunakan motor milik pencuri guna menghilangkan jejaknya. Nina ingin sekali teriak maling pada saat itu, tetapi posisi Nina saat itu sedang sendiri dan keadaan yang sepi, Nina merasa bimbang sekali. Jika ia teriak Nina takut di ancam oleh pencurinya, tetapi jika tidak teriak maling helm berwarna merah muda itu akan hilang.
Setelah sampai di kelas, Nina merasa tidak enak hati pada korban pencurian tersebut. Bel masuk sekolah sudah berbunyi tapi teman sebangkunya belum juga datang. Nina khawatir pada temannya takut terjadi sesuatu di jalan karena biasanya yang pertama sampai kelas duluan adalah Desti. Desti merupakan teman sebangku Nina yang biasa datang lebih pagi dari Nina karena Desti memiliki motor.
Tiba-tiba beberapa menit kemudian setelah pengajian pagi. Nina melihat Deti sedang menangis di lobi.
“ Desti kamu kenapa menangis? Apa yang telah terjadi? Ceritalah! “ Tanya Nina kepada Desti.
“ aku kecurian helm Nin, jadi pada saat itu aku sedang membeli roti untuk sarapan di toko makanan dekat sekolah. Tapi setelah aku keluar dari toko itu helm baru aku sudah tidak ada.” Jawab Desti sambil menangis tersedu-sedu.
“ Apa Des? Yang benar Des? “ Nina terkejut mendengar cerita Desti dan terlihat gelisah.
Tak lama kemudian Desti pun meminta antar untuk melapor ke kantor polisi. Nina pun mengantar Desti untuk melapor ke kantor polisi sebagai bentuk menebus rasa bersalahnya kepada Desti.
“ Coba saja waktu itu aku melakukan sesuatu pasti helm Desti tidak akan di curi, Arghhh” Gumam Nina di dalam hatinya.
Keesokan harinya, Desti menghampiri Nina yang dari pagi duduk melamun di kelas.
“ Nina terimakasih kemarin kamu sudah mengantarkan aku ke kantor polisi” Kata Desti.
“ Eh Desti sama-sama Des “ Jawab Nina.
“ Nin, aku sudah dapat laporan dari polisi, ternyata polisi tidak bisa mencari pencuri tersebut karena sulit mencarinya dan tidak ada gambaran wajah si pencuri. Coba ada yang melihat kejadian waktu itu, ah sudahlah aku sudah ikhlas “ Kata Desti.
Nina hanya terdiam.
“ Nin… Nin kamu kenapa diam saja ? “ Tanya Desti pada Nina.
Nina terkejut “ eh iya Des kenapa ? “ Tanya Nina kembali kepada Desti.
Desti hanya menggelengkan kepala merasa ada hal aneh dari Nina. Hingga tiga hari kemudian, Nina masih merasa bersalah dan merasa gelisah. Dikelas semua anak berkumpul sedang mendiskusikan tentang agama, tiba-tiba Putri berbicara bahwa orang yang membiarkan kejahatan terjadi, bagaikan setan yang bisu. Seketika Nina merasa tersindir dan gelisah. Tapi di dalam hatinya ia tak akan memaafkan dirinya sendiri, dia pun tak akan mengatakan yang sebenarnya, bahkan Nina tetap akan menyimpan rasa penyesalannya sampai akhir hayat hidupnya.
Pada malam harinya, Nina tertidur dan bermimpi ketika dia hendak membeli makanan dan Nina bertemu dengan si pencuri, lalu Nina menghampiri si pencuri.
Dan Nina berkata “ Kamu yang mengambil helm milik teman saya ya ? “ .
Lalu si pencuri bertanya dan mengelak tuduhan Nina. “Maaf anda siapa ya? Berani nya menuduh saya yang tidak-tidak” Jawab si pencuri itu dengan nada yang terlihat gugup.
“ Eh maaf ya bukannya saya ikut campur tapi kemarin saya melihat anda mengambil helm di motor milik teman saya “. Nina berkata dengan nada yang memastikan.
“Mba, maaf mba salah orang kali mba” si pencuri itu berkata sambil meninggalkan Nina dengan terburu-buru.
“Eh woy saya engga pikun kali mas “ Nina berteriak sambil mengingat-ingat wajah si pencuri itu.
Nina mengejar si pencuri itu sampai Nina kecepean dan kemudian si pencuri itu menghilang dari pandangannya. Nina kecewa dia tidak bisa mengejar si pencuri itu.
Nina pun terbangun dan kecewa karena mimpi itu seperti benar-benar nyata dan Nina menjadi teringat karena dia membiarkan pencuri itu membawa helm temannya. Nina termenung dan dia sangat menyesalkan kejadian pada waktu itu.
Hari pun mulai pagi, hari itu adalah hari senin. Nina berangkat sekolah seperti biasanya dan Nina berjalan dengan agak lesu dan wajah yang agak pucat. Sesampainya di sekolah Nina duduk sejenak dan mengobrol dengan Desti.
“ Sekarang pr nya cuma bahasa Indonesia aja kan ? “ Desti bertanya kepada Nina.
“ Iya Des, tapi aku ada yang gak ngerti satu soal, kamu sudah belum ? ajarin aku dong!” Nina menjawab dengan suara  yang agak lemas. Dan bel sudah berbunyi tandanya murid harus sudah kumpul di lapangan upacara untuk melaksanakan upacara bendera.
“ Aku udah nanti aku ajarin oke, sekarang kita ke lapangan upacara soalnya bel sudah berbunyi”. Desti menjawab dan berdiri mengambil topi dan keluar kelas. Nina berdiri dengan badan yang lemas karena dia terus saja kepikiran dengan kejadian itu. Pada saat upacara Desti melihat dan menyadari bahwa Nina sedang sakit karena wajah Nina pucat dan badan yang panas.
“ Nin, kamu sakit ya ? “ Desti merasa kasihan kepada Nina.
“ Gak Des, aku baik baik aja kok” Nina menjawab dengan nada yang lemas.
“Kamu kelihatan pucat wajah kamu dan badan kamu panas gini Nin” Desti memastikan. Lalu tiba-tiba mata Nina mulai berkunang-kunang dan di sekeliling nampak gelap, kepala Nina pusing sekali dan Nina pingsan dengan tubuh yang lemas.
Desti panik dan memanggil PMR.
“ PMR….PMR … ini pingsan”. Desti berteriak dan seketika itu orang-orang menatap ke arah Nina dan Desti. Lalu Nina di bawa ke UKS. Setelah upacara selesai Nina masih terbaring lemas belum sadar juga. Ketika Nina sadar banyak orang yang melihat Nina karena cemas takut terjadi apa-apa dengan Nina.
“ Masih pusing tidak dek?” Tanya petugas UKS tersebut.
“ Sudah agak mendingan bu” Nina menjawab.
“ Alhamdulillah kalau sudah mendingan, ini minum air mineral dulu”. Ujar petugas UKS sambil memberikan segelas air mineral kepada Nina.
“Terimakasih banyak bu”. Nina tersenyum dengan wajah yang agak pucat.
Setelah itu Nina termenung dia sangat menyesal karena kejadian pada saat itu menghantui pikiran Nina sampai sekarang. Nina berfikir mengapa kejadian ini sangat menghantui pikiran Nina dan terjadi pada Nina dia sangat merasa bersalah dan merasa menyesal dengan kejadian itu sampai kapanpun.






Terimakasih telah mengunjungi blog saya😊 semoga bermanfaat 😊


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer